Nadia Soekarno

Meet our favorite multitalented reporter, actress, and travel enthusiast

Bekerja di bidang penyiaran (broadcasting) tentunya membutuhkan jiwa yang tangguh dan mental yang kuat untuk selalu siap menghadapi berbagai tantangan berat. Tak sedikit yang berhenti di tengah jalan dan akhirnya beralih pekerjaan. Berbeda dengan yang lain, profesi menantang ini memberikan kebanggaan tersendiri bagi Nadia Ayesha Mieke Soekarno, seorang jurnalis multitalenta yang juga mahir bermain piano.

Bisa dibilang darah performer dan jiwa seni memang mengalir kuat di tubuh cewek yang akrab disapa dengan panggilan Didi ini. Mengikuti jejak sang ibu yang merupakan aktris dan model ternama, Soraya Haque, ia mengawali karirnya sebagai model dalam pemilihan Gadis Sampul 2009. Ia juga pernah berperan dalam beberapa film televisi (FTV) dan sinetron, salah satunya berjudul Akibat Pernikahan Dini.

(Instagram/@nadiasoekarno)

Sementara sang ayah, Ekki Soekarno yang merupakan seorang pemusik dan juga menggeluti dunia seni peran, telah menurunkan bakatnya dalam memainkan instrumen musik kepada sang buah hati. Saat masih berusia 16 tahun, Didi berhasil menyelesaikan pendidikan di sebuah sekolah piano yang setara dengan jenjang pendidikan D3. Ia juga sempat beberapa kali mempertunjukkan keahliannya bermain musik klasik dan pop di berbagai panggung, yang juga diunggah di kanal YouTube miliknya. Sejak kecil, perempuan kelahiran 9 Desember 1994 ini sudah menganggap instrumen musik tersebut bagai seorang sahabat yang selalu menghibur dirinya. Baginya, bermain piano merupakan pelarian terbaiknya ketika suasana hatinya sedang tak bisa diajak kompromi.

“Aku masih ingat pesan dari orang tuaku, bahwa kita harus memiliki talenta lebih, jangan sampai tergantung pada satu keahlian saja. Karena akan ada banyak orang yang jauh lebih pintar, penampilannya lebih bagus, dan lebih baik dari kita. Kalau kita tidak punya keunikan atau hal yang beda dari orang lain, maka nama kita akan tenggelam."
Nadia Soekarno

Dari semua bidang yang pernah Didi jalani, hati dan tekad menuntunnya untuk mantap memilih jurnalisme sebagai jalan karirnya. Perjuangan perempuan yang kini banyak menghiasi layar kaca sebagai presenter dalam segmen NET 5, NET 12, NET 24, Good Afternoon, dan The Newsroom ini ternyata tak selalu mulus, lho. Sebelum berkecimpung di dunia broadcasting, banyak yang menyarankan agar Didi mengambil jurusan Public Relation (PR) saat kuliah, karena melihat segi jam kerja yang cenderung lebih pasti. Dan ketika Didi memutuskan untuk meniti karir sebagai seorang reporter, ia juga pernah melamar di salah satu televisi swasta, namun tak kunjung ada kabar dari pihak terkait. Hingga pada akhirnya, Didi mendapat kesempatan untuk menjadi reporter dan juga pembawa acara di NET TV, yang menjadi awal jalan dari pekerjaan yang dibanggakannya hingga kini.


Salah satu alasan Didi yang patut kamu tiru adalah keinginannya untuk dihargai dan dibanggakan, bukan hanya sekadar dari penampilan luar saja. Sebelum dikenal seperti sekarang ini, ia sempat ditawari untuk menjadi presenter acara Entertainment News. Namun, dengan kepribadiannya yang menyukai tantangan dan berbekal ilmu jurnalistik saat kuliah, Didi memilih untuk menjadi seorang reporter. Bagi cewek yang memiliki hobi traveling ini, profesi ini bisa mengandalkan kecerdasan dan talentanya, juga memiliki andil yang sangat besar dalam dunia jurnalistik.

Tugasnya sebagai reporter tak hanya meliput dan membaca berita saja, tapi ia dituntut agar selalu sigap dan akurat dalam mencari tahu informasi aktual dari suatu kejadian. Kerap kali, tantangan melanda Didi saat diburu oleh waktu ketika ia sedang riset dan harus segera melaporkan sebuah berita. Tak hanya itu, sebagai seorang reporter televisi, Didi juga harus tanggap ketika melakukan reportase secara live. Bisa kamu bayangkan, kan, betapa rumitnya pekerjaan reporter itu, girls? Tak selalu serius, ada juga pengalaman kocak yang sempat Didi alami selama menjadi reporter yang mungkin tak kamu sangka. Ia pernah tak sengaja menginjak “ranjau” ketika meliput berita di bawah tol Tanjung Priok! Tak sampai di situ kesialan yang pernah Didi alami, ia juga pernah merasakan kepalanya terkena lemparan bola oleh Kiper Timnas, Awan Seto, sewaktu liputan persiapan pertandingan antar Timnas Indonesia vs Islandia. Namun bukannya lantas kesal, Didi malah menganggap itu sebagai pengalaman yang unik dan tak terlupakan.

“Jika seorang anchor itu layaknya ksatria, maka reporter adalah ujung tombak dari senjatanya.”

Di balik berbagai tantangan yang dialaminya, Didi menganggapnya sebagai hal positif untuk memperkaya ilmu dan pengalamannya. Berbagai profesi yang ia jalani selama ini, mulai dari reporter, pianis, hingga aktris, membuatnya banyak dikenal sebagai sosok anak muda yang inspiratif di media sosial. Pantas saja jika cewek yang memiliki lebih dari 80 ribu pengikut di Instagram ini kerap dianggap sebagai seorang influencer oleh para followers-nya. Namun, julukan tersebut tak lantas membuat seorang Nadia Soekarno melalaikan tugas utamanya sebagai jurnalis. Baginya, dunia media sosial hanyalah aktivitas sampingan sembari berbagi hal positif dengan orang-orang di sekitarnya.

Love her unique yet practical traveling style! (Instagram/@nadiasoekarno)

Keputusan yang diambil Nadia Soekarno untuk tetap teguh menjalani profesinya sebagai jurnalis patut menjadi contoh. Di antara kompleksitas tugas reporter yang ia tekuni, ada banyak manfaat yang pastinya bisa ia sebarkan kepada khalayak. Tangguh dan cerdas adalah dua dari kunci yang perlu kamu miliki untuk mewujudkan cita-citamu. Pastinya kamu juga ingin kalau profesi dan passion-mu juga berguna bagi banyak orang seperti Didi kan, girls?

Her Recommendation: People Who Changed The World by Rooney Castleden,
I Am Malala by Malala Yousafzai, Committed by Elizabeth Gilbert
5 USEFUL TIPS
  • Rajin update berita, dan jangan malas untuk riset topik apapun, walaupun itu topik yang bukan kita sukai. Karena sebagai reporter, kita dituntut untuk berwawasan luas dan bisa melaporkan berbagai macam jenis berita, mulai dari soft news hingga hard news.

  • On time is a must! Pantangan banget bagi reporter kalau sampai telat, karena bisa ‘bobol’ (istilah yang dipakai kru berita kalau telat mengambil gambar kejadian dan mengabarkan berita di lokasi kejadian).

  • Banyak reporter, baik itu reporter media online maupun cetak, yang saat bertugas gak memerhatikan penampilan. Padahal sebagai reporter, kita kan harus banyak berkomunikasi dengan narasumber. Penampilan yang kumal dan bau badan bisa bikin orang di sekitar gak nyaman, apalagi ke narasumber.

  • Tips dari produser aku: salah satu cara ampuh untuk lancar berbicara saat reporting adalah dengan memerhatikan lokasi di sekitar saat naik ojek atau mobil, dan bayangkan kalau kita mesti menjelaskan suasana dan informasi tentang lokasi di sekitar. Misalnya, “ya, di sebelah kanan saya ada coffee shop yang sudah buka, dan terlihat pengunjung sudah antri melingkar di depannya untuk mencoba menu kopi yang saat ini sedang hits.”

  • Modal utama menjadi seorang reporter adalah memiliki wawasan luas dan percaya diri. Biar lebih pede di depan kamera, kita bisa latihan dengan sering-sering berkaca dan memeragakan cara kita reporting. Biasanya akan terlihat apa saja yang masih kurang, bisa jadi ternyata tubuh kita masih terlihat agak bungkuk tanpa kita sadari, atau gaya bicara kita yang kurang luwes. Sering latihan mimik muka juga membantu gaya bicara kita lebih lancar.