Pentingnya Kesehatan Mental dan Fisik yang Seimbang Dalam Tubuh Manusia, 3 Hal Ini Menjadi Alasan Mengapa Harus Demikian?

Hidup di era serba media sosial seperti saat ini mendorong kita untuk mengenal lebih dalam tentang apa itu kesehatan mental. Bukan apa-apa, girls. Puluhan bahkan ratusan feeds yang terinput ke dalam otak kita setiap hari mau gak mau mempengaruhi mood bahkan kepribadian kita. Itu lah mengapa dewasa ini tak hanya kesehatan fisik yang perlu diperhatikan, tapi keseimbangan dengan kesehatan mental pun perlu kita kejar.

Hal ini senada dengan apa yang ingin disampaikan dalam perayaan ulang tahun Herbana, suplemen kesehatan herbal yang fokus pada keseimbangan kesehatan fisik dan mental yang kedua. Dalam agenda menggembirakan tersebut, bertempat di Aksara Kemang, Jakarta Selatan, pada 13 dan 14 Oktober 2018 lalu, Herbana berkesempatan meluncurkan variasi produk terbarunya yang diberi nama BalanceMadia.

Dengan mengundang beberapa influencer yang dikenal concern pada gaya hidup holistic yang sehat sebagai pembicara, seperti Andra Alodita, Tanya Larasati, Ayla Dimitri, Holistic Health Consultant Tjok Gde, Holistic Health Coach Gwen Winarno, sampai Brand Manager of Herbana Jesslyn Raharjo. Yuk, kita simak apa saja yang menjadi poin penting untuk kita semua.

Buruknya kesehatan mental dapat memengaruhi kesehatan fisik seseorang

View this post on Instagram

We have finished our two-day event, The Balance Space by Herbana! We had four amazing talkshows with our inspiring friends, @alodita @tanyalarasati @ayladimitri @tirtausada @gwenwinarno @hadiismanto__ and @jessarahardjo. We hope you enjoyed the talkshows as much as we do! We sincerely thank you for joining us in the launch of Balance Madia last Saturday, and last but not least for making our 2nd anniversary celebration even merrier!

A post shared by HERBANA • Herbs For Wellness (@herbana.id) on

Dalam jurnal penelitan Depression and Coronary Artery Disease yang diterbitkan oleh The National Center for Biotechnology Information, disebutkan bahwa depresi mampu meningkatkan risiko penyakit arteri koroner. Dalam jurnal tersebut juga dikatakan bahwa depresi dan arteri koroner memiliki hubungan dua arah. Pertama, penyakit arteri dapat menyebabkan depresi, dan depresi merupakan faktor risiko independen untuk penyakit arteri koroner beserta komplikasinya. Dengan kata lain, penelitian itu membuktikan jika kesehatan mental dan kesehatan fisik sangat berkaitan satu sama lain.

Analogi mudahnya begini, kalau pikiranmu tenang tanpa beban yang menumpuk, otomatis kamu akan lebih bergairah dan lebih bersemangat menjalani aktivitasmu sehari-hari. Namun jika kita sedang dalam keadaan dengan pikiran yang menumpuk, yang membuat kita malas bergerak dan hanya tidur-tiduran di tempat tidur.

Padahal jika beban pikiranmu berhasil kamu lawan, tanpa kamu sadari, fungsi otakmu telah bekerja dengan mesinnya yang kemudian akan memengaruhi gerak tubuhmu, dan tentunya juga berdampak baik pada kesehatan fisikmu.

Faktor gaya hidup memengaruhi kesehatan mental dan fisikmu

Via Unsplash.com

Sudah banyak yang bilang kalau gaya hidup bisa menentukan bagaimana kondisi fisik dan mental beberapa tahun ke depan. Studi juga menunjukkan bahwa dengan melakukan olahraga yang rutin berfungsi untuk melepaskan dan menyerap endorfin pada otak, dan aktivitas singkat selama 10 menit berjalan cepat juga dapat meningkatkan kewaspadaan mental, energi, dan suasana hati yang menjadi lebih positif.

Selain bisa memengaruhi kesehatan, diet ternyata juga berdampak pada kesehatan mental lho, girls. Sebab, makanan yang kita makan ketika menerapkan diet seimbang pada tubuh bisa memengaruhi perkembangan, manajemen, dan pencegahan berbagai kondisi kesehatan mental, dalam hal ini termasuk pada depresi dan alzheimer. Sedangkan kalau kamu merokok, bersiaplah dengan risiko ketergantungan pada sensasi yang menenangkan namun hanya dalam jangka watu yang pendek dan berbalas efek buruk yang jauh lebih banyak. Biasanya, orang yang mengalami depresi akan terbiasa merokok dua kali lebih sering. Artinya, dampak buruk pada kesehatan fisik yang diakibatkan dari merokok untuk orang yang mengalami depresi, akan jauh lebih besar ketimbang orang yang merokok dengan kebiasaan yang normal.

Lantas, mengapa bisa muncul anggapan bahwa merokok dapat meredakan stres meski dalam jangka yang pendek? Dilansir dari laman Smokers’ Helpline, rokok itu mengandung nikotin yang merupakan obat psikoaktif yang bisa mengubah suasana hati. Diceritakan dalam laman tersebut, ketika seseorang merokok, nikotin yang mencapai orang dalam delapan detik mampu menyebabkan pelepasan zat kimia yang disebut dengan dopamin. Nah, dopamin itulah yang bisa memunculkan perasaan senang dan rileks, yang biasanya dibutuhkan orang-orang yang mengalami stres. Tapi, yang gak banyak diketahui manusia pada umumnya adalah selama perasaan relaksasi tersebut, sebenarnya tubuh mengalami peningkatan stres, di mana tekanan darah dan peningkatan denyut jantung serta otot menjadi tegang, dan menimbulkan kekurangan oksigen yang dibutuhkan tubuh dan otak. Sesungguhnya, perasaan lega dan senang yang dirasakan perokok itu mungkin saja diakibatkan oleh sensasi yang diberikan oleh nikotin dalam waktu yang singkat itu, girls.

Menyeimbangkan kesehatan mental dan fisik dengan terlebih dulu menerimanya

Salah satu cara untuk memperbaiki gangguan pada kesehatan mentalmu adalah dengan menerima gejalanya. Bagaimanapun, stres adalah bagian dari kehidupan. Kita boleh saja melawannya, asalkan terlebih dulu mau menerima dan mengakuinya. Begitupula jika kita mengalami gangguan kesehatan fisik, dimana kita harus mengakui bahwa kita merasa gak enak badan, lalu mencari tahu segala kemungkinannya, kemudian berkonsultasi dengan dokter. Sebenarnya, cara penanganan ketika kita merasa ada yang salah dengan mental dan fisik kita itu sama, yaitu dengan menyadari dan menerimanya.

Lagipula, gak ada yang salah atau yang memalukan ketika kita mau mengakui apa yang sedang kita alami girls, termasuk jika kesehatan mental kita lah yang terganggu. Sebab, sering kali manusia gak mau menyadari betapa pentingnya menjaga kesehatan tubuh itu, baik fisik maupun mental, sebelum kita sendiri mengalaminya. Seolah-olah, kita sudah terbiasa untuk mengobati dan bukan mencegah. Padahal gak sedikit dari kita yang sudah menerapkan di dalam otaknya, bahwa lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan?

Sebagaimana yang diucapkan Ayla dalam pembukaannya di sesi talkshow bertema Mental Health dalam acara Herbana tersebut, bahwa “Balance menurut Ayla Dimitri adalah di mana aku bisa merasakan atau aware akan sekitar, juga mindful living itu penting banget. Balance itu buat aku gak hanya happiness dari yang bisa kita lihat, tapi juga bisa kita rasakan dari dalam. Ketika kita menerima keadaan kita dan kita menjalani segalanya dengan hati yang bahagia.”

Dalam acara itu, juga diselenggarakan workshop membuat berbagai prakarya seperti tanaman gantung dengan tema Kokedama Making for Mom & Kids bersama Nelza dari Emillie Garden, serta kelas menenun di atas tote bag bersama Nike Prima & Miranti Andi Kasim dari Living Loving. Ada juga workshop membuat Gin Tonic yang berkhasiat untuk menghilangkan demam sebagai obat rumahan bersama Kresna dan Ismi dari Rahsa Nusantara. Nah, untuk kamu yang doyan shopping, ada juga weekend market yang menjual barang-barang penunjang kesehatan, green living, dan ramah lingkungan.

Well, siapkah kamu untuk memfokuskan perhatianmu pada kesehatan mentalmu juga?

13 Shares
Siti Annisa

Bagian dari spektrum!

Best Rimma.co Content Delivered to your Inbox
Rimma.co

Sebuah komunitas untuk kamu yang ingin meniti karir, mengelola keuangan, hingga mencintai diri sendiri.

Follow Us: