Biar Mandiri, Ketahui Bagaimana Caranya Menanamkan Sikap Problem Solver Kepada Anak di Usia 3-14 Tahun

Semua orangtua pasti ingin anaknya dapat tumbuh dewasa dengan optimal. Hal ini tentu wajar, Ma. Namun untuk mencapai tujuan tersebut, ada satu sifat yang harus dimiliki si kecil nih, Ma. Kemampuan memecahkan masalah adalah bekal penting bagi anak agar ia bisa bertahan hidup di tengah tantangan yang semakin banyak. Yup, mampu menemukan solusi atas setiap permasalahn yang dihadapi, diharapkan si kecil bisa tumbuh menjadi sosok yang bertanggung jawab dan visioner. Tapi bagaimana ya, menanamkan sifat ini sedari dini?

1. Kenalkan apa itu tanggung jawab dan problem solving kepada anak

Via Unsplash.com

Ketika Mama sedang menghabiskan waktu bersama anak, misalnya sedang bermain, makan malam, atau pun membimbingnya mengerjakan tugas, mama bisa sesekali memberi tahunya tentang makna tanggung jawab. Jelaskan bahwa tanggung jawab semestinya selalu ada dalam diri manusia, karena hal ini merupakan kewajiban seseorang dalam menanggung risiko atau dampak yang timbul ketika melakukan segala sesuatu. Sampaikan pula kepada anak, bahwa dengan memiliki sikap tanggung jawab, niscaya kelak ia akan menjadi pribadi yang lebih bijak, terutama dalam menggunakan waktu dan materi yang dimilikinya.

Selain itu, kenalkan juga seperti apa cara memecahkan masalah ketika anak mengalami kegundahan atau kemampatan berpikir. Berikan contoh yang relevan dengan kehidupan anak pada masa itu. Misalnya saja, kita bisa memberi penjelasan dan solusi ketika anak tidak bisa menyelesaikan pekerjaan rumahnya, atau ketika ia bertengkar dan berebut mainan dengan kakaknya, bisa juga memberikan solusi ketika anak melihat temannya yang kelaparan karena gak membawa uang jajan. Dengan begitu, anak akan terbiasa memahami, hal apa sajakah yang membutuhkan tanggung jawabnya, dan apa yang semestinya ia perbuat ketika menghadapi berbagai persoalan.

Berikan contoh yang relevan dengan kehidupan anak pada masa itu.

2. Sediakan tempat bermain untuknya di rumah

Setiap anak pasti senang jika memiliki ruang bermain, di mana ia bisa mengeksplor kemampuan motoriknya, juga membebaskan ide dan ekspresinya dalam menciptakan sebuah karya. Nah, jika anak sudah diberi kebebasan untuk mengatur permainannya sendiri, di situlah peran Mama untuk membimbingnya agar anak mampu bertanggung jawab membersihkan alat-alat dan mainannya seorang diri. Secara gak langsung, kita telah mendidik anak agar ia gak sembarangan mengotori ruangan di manapun ia berada.

Juga ketika anak mendapati kesulitan, misalnya ketika ia bingung memilih warna apa yang harus ia goreskan pada gambar yang dibuatnya, anak akan menggunakan kemampuan kognitifnya untuk memilih warna yang tepat, meski sesuai dengan seleranya. Atau pada saat anak bermain bongkar pasang, ia akan dihadapkan pada cara merancang dan memasang mainan supaya menjadi satu bentuk yang utuh, maka di situlah sikap pemecahan masalah yang sesungguhnya sedang diaplikasikannya sendiri. Dalam keadaan tersebut, Mama bisa mengamati perkembangan kemampuannya secara diam-diam dan dari kejauhan.

3. Ketika anak bertengkar atau memiliki masalah, bantulah dia mengidentifikasi masalah

Via Unsplash.com

Saat anak bertengkar dengan temannya di sekolah atau di tempat bermain, kita gak perlu lantas mengomelinya atau malah memarahi temannya. Jika kita membiasakan diri untuk membelanya atau mengomelinya di depan umum, hal itu hanya akan membuat anak menjadi manja dan juga trauma. Sebab, anak akan terus merasa bergantung pada keputusan Mama, dan merasa takut salah melakukan segala hal.

Ada baiknya jika kita membantunya untuk mengidentifikasi masalah. Mintalah agar anak mau merunut awal mula kejadian yang membuatnya bertengkar. Tanyakan kepada anak, hal apa yang membuatnya sehingga ia harus berantem dengan temannya. Tanyakan pula apakah ia gak ingin memaafkan temannya atau apa yang membuatnya sebegitu marah, hingga ia harus bertengkar dengan temannya itu.

Setelah kita mengumpulkan alasan dan jawaban yang diberikan anak tentang pertengkaran dengan temannya, kita bisa mencoba untuk bertanya tentang apa solusi dari masalahnya itu. Dari pelajaran itulah, kita bisa membiasakan anak untuk menyelesaikan permasalahannya baik dengan temannya, maupun berdamai dengan dirinya sendiri.

Kita tetap perlu membimbingnya berpikir mengenai apa yang seharusnya ia lakukan untuk menyikapi persoalannya dan gak membiarkannya lari dari masalah, terlebih gak menyelesaikannya.

4. Ketika Mama sedang memiliki masalah, cobalah minta solusi kepada anak

Bisa dibilang, inilah bagian untuk menguji ilmu yang sudah didapat anak dari sekolah maupun arahan dari Mama. Cobalah untuk meminta saran kepada anak mengenai masalah yang sedang kita hadapi saat itu. Dari situasi tersebut, kita bisa melihat kepribadian anak yang lebih condong kepada hati atau pikiran yang logis. Dengan begitu, kita bisa mengarahkan anak kepada hal yang memang semestinya dilakukan atau yang sebaiknya ditinggalkan. Tapi, Mama harus ingat, tugas kita hanya sebagai orang yang membimbing dan mengarahkan, bukan sebagai yang membentuk kepribadian anak. Biarkanlah anak menemukan jati dirinya sendiri.

Janganlah ragu untuk mengajaknya berdiskusi tentang segala permasalahan yang dialami. Sebab, dengan begitu anak akan merasa dihargai dan dibutuhkan opininya. Jika anak sudah terbiasa untuk mendiskusikan suatu masalah dan dibebaskan mengutarakan pendapatnya, maka ia akan menjadi seseorang yang lebih peduli dengan keadaan lingkungan sekitar ketika beranjak dewasa.

Belum lagi, dia akan temotivasi untuk memutar otaknya, mencari informasi dan menganalisanya sebelum menyimpulkannya menjadi sebuah saran untuk memecahkan masalah. Nah, jika anak sudah mampu untuk memecahkan masalahnya sendiri dan juga orang lain, bisa dipastikan ketika kelak dia beranjak dewasa, anak akan lebih mampu beradaptasi dan menyikapi setiap kondisi dengan lebih baik dan lebih cepat dibanding teman-temannya yang lain.

5. Berikan pujian ketika anak sanggup memecahkan masalahnya sendiri

Via Unsplash.com

Apresiasi adalah bentuk lain dari dukungan yang akan memotivasinya untuk terus melakukan hal yang jauh lebih baik ketimbang sebelum-sebelumnya. Anak yang hampir selalu mendapat pujian dari orang tuanya akan merasa lebih dihargai usahanya daripada mereka yang merasa gak diperhatikan hanya karena orang tuanya jarang mengapresiasi keberhasilannya secara verbal.

Tentunya gak semua orang tua memiliki kepribadian yang bisa menunjukkan rasa bangganya secara langsung kepada anak, sebab ada juga tipe orang tua yang lebih senang memendam rasa syukurnya karena telah memiliki anak yang cerdas. Kita memang gak perlu membeda-bedakan kepribadian itu. Hanya saja, akan lebih baik jika anak sesekali tahu, kalau orang tuanya sangat memperhatikan perkembangannya, meski gak selalu mengecup keningnya lantas menyampaikan rasa bangga kepadanya.

Memang butuh kesabaran dan sedikit rasa tega ketika mengajarkan anak untuk menyikapi suatu permasalahan. Bahkan kita sebagai Mama juga perlu membiarkannya merasakan rasa sakit ketika ia terjatuh dari sepeda, atau jatuh setelah berlarian. Sebab, bagaimanapun anak harus sudah diajarkan tentang berbagai rasa di hati sejak dini, agar kelak ia bisa terbiasa menggunakan logikanya ketika harus menyelesaikan persoalannya.

Siti Annisa

Bagian dari spektrum!

No Comments Yet

Comments are closed

Best Rimma.co Content Delivered to your Inbox
Rimma.co

Sebuah komunitas untuk kamu yang ingin meniti karir, mengelola keuangan, hingga mencintai diri sendiri.

Follow Us: