3 Fakta Duck Syndrome, Permasalahan Mental yang Rentan Dialami Anak Muda

Pernah mendengar duck syndrome, girls? Istilah yang pertama kali digunakan Universitas Stanford ini dinamakan demikian karena diibaratkan bebek yang sedang berada di dalam air, penderita yang mengalami permasalahan mental satu ini terlihat tenang di permukaan, tapi sebenarnya mereka mengalami kepanikan dan kecemasan yang cukup berat. Duck syndrome sering dialami oleh muda-mudi dan bisa sangat membahayakan secara fisik maupun psikis jika dibiarkan. Untuk itu, yuk cari tahu fakta-faktanya berikut ini.

1. Duck syndrome berhubungan dengan identitas diri dan harga diri

via unsplash.com

Seperti yang dilansir dari girlboss.com, Dr. Carol Langlois, yang merupakan seorang ahli terapis di California mengungkapkan kalau inti dari permasalahan duck syndrome terletak pada identitas diri dan harga diri. Umumnya, syndrom ini mulai dirasakan ketika bangku kuliah dimana tekanan dan permasalahan menjadi lebih kompleks. Banyak orang yang kesulitan untuk menyikapi stress tinggi di lingkungannya dikarenakan sulit menemukan teman bicara, atau bahkan merasa permasalahan yang dialami merupakan hal yang memalukan. Oleh karena itu, mereka menutupinya dengan ‘topeng baik-baik saja’.

2. Selain lingkungan sekitar, faktor sosial media pun dapat turut mempengaruhi duck syndrome

via unsplash.com

Sosial media sudah menjadi bagian sehari-hari generasi millenial. Ada banyak kelebihan dari penggunaan sosmed, tapi di luar itu juga ada kekurangannya. Salah satunya dari segi kesehatan mental adalah memunculkan perasaan gengsi dan minder. Mayoritas pengguna sosmed meng-update status atau memposting foto hal-hal yang membahagiakan dan membanggakan. Padahal, apa yang terlihat tidaklah selalu sesuai dengan yang dibayangkan. So, sosial media pun bisa menjadi tekanan untuk terlihat perfect.

3. Cara mengatasi duck syndrome

via unsplash.com

Jangan memendam permasalahan sendiri dan mengisolasi diri dari orang lain. Ceritakanlah kecemasan dan ketakutanmu pada orang yang kamu percaya, entah itu sahabat, saudara, atau mungkin orang tuamu. Terlihat tegar dan baik-baik saja merupakan hal yang bagus, tapi bila beban yang kamu tanggung itu sudah mengganggu kesehatanmu, jangan membohongi dirimu dengan berusaha bersikap baik-baik saja, girls. Untuk kondisi yang lebih serius, sebaiknya segera konsultasikan dengan psikolog.

Nah, apakah sejauh ini kamu suka memendam permasalahanmu sendiri? Adakah teman curhat yang kamu percaya?

58 Shares
Athiah D Amida

She loves to express herself through writing and art