Asian Games 2018 Telah Berakhir, Tapi 7 Momen Ini Menjadi Pelajaran Berharga untuk Kita!

Berakhirnya Asian Games 2018 menjadi awal yang baru bagi kita sebagai bangsa Indonesia. Banyak momen yang tentunya memberi kita semangat baru, yang bisa dikaitkan sebagai makna perjuangan meraih mimpi lewat serangkaian pertandingan di ajang olahraga empat tahunan tersebut.

Pastinya semua itu bikin kita bangga, ya? Apalagi melihat para atlet yang begitu rendah hati namun tinggi prestasi. Tak cuma kaya prestasi, penyelenggaraan Asian Games 2018 ini juga kaya akan pelajaran berharga, nih. Bahkan beberapanya bisa kamu terapkan nih dalam kehidupanmu sehari-hari agar menjadi pribadi yang semakin terbuka jalan pikirannya!

1. Kerendahan hati seorang pemimpin demi negerinya

Via ANTARA

Masih ingatkah girls, ketika Presiden RI Joko Widodo mau diajak berakting demi mengeksekusi kreativitas sang creative director pada upacara pembukaan Asian Games 2018 lalu? Yap, Bapak Presiden kita bersedia menyumbang aksinya untuk mendukung para atlet sebelum bertanding dengan cara yang gak biasa. Berkat kekompakan dan perpindahan scene yang sangat halus. Peran beliau pun mampu membuat para penonton terkesima dan tertawa-tawa takjub.

Kerendahan hati pemimpin negeri kita ini patut dicontoh, girls. Misalnya saja ketika nanti kamu berhasil mencapai puncak tertinggi di tempatmu bekerja, kamu tetap bisa menjalin kerja sama yang terorganisasi dan gak ada space yang teralu jauh antara kamu dan bawahanmu kelak. Sehingga, bawahanmu pun akan merasa lebih nyaman ketika bertukar pikiran denganmu. Dengan tetap mempertahankan sifat rendah hati itu, kamu gak akan merasa sebagai orang yang paling berkuasa, terlebih gak akan merendahkan orang-orang yang jabatannya ada di bawahmu.

2. Kekuatan perempuan mampu menyumbang emas pertama bagi Indonesia

Siapa bilang perempuan gak mampu menyumbang kekuatan fisiknya untuk negara? Melalui kekuatan dan kepiawaiannya ketika menghadapi lawan dari Iran, Defia Rosmaniar sanggup memetik emas pertama untuk Indonesia dalam cabang olahraga (cabor) Taekwondo nomor Poomsae. Gak hanya Defia aja girls, tapi Lindswell Kwok dari cabor Wushu nomor Taijijian dan Tiara Andini Prastika dari cabor Balap Sepeda nomor Downhill, secara berturut-turut juga menyusul Defia menyumbang emas bagi Indonesia dengan memberikan baktinya berupa kekuatan fisik dan strategi tepat yang mereka miliki.

Melalui contoh itu kamu juga bisa membuktikan pada dunia, bahwa perempuan yang dulunya selalu jarang mendapat kesempatan untuk maju dan berpendidikan, kini bisa memberikan sumbangsihnya pada negara, tentunya perjuangannya itu juga mampu menginspirasi banyak perempuan lainnya untuk ikutan berdaya. Perempuan yang dulunya sering dibilang lemah dan seolah mengharuskan pria untuk mengalah, sekarang justru mampu menunjukkan bahwa kekuatannya turut membawa Indonesia ke peringkat empat di ajang Asian Games 2018. Bisa menjadi panutan nih, girls!

3. Strategi tepat dan sehat untuk bangkit dari kegagalan

Via ANTARA

Ingat ketika Anthony Ginting terpaksa menyerah dalam set terarkhir gimnya dengan Shi Yuqi di babak final badminton beregu putra? Saat itu kaki kiri Ginting, begitu ia disapa mengalami kram yang serius dan mengharuskan Ginting berhenti pada skor 20-21 untuk China. Saat itu, Ginting menyerah bukan karena ia merasa kalah, namun ia tahu bahwa kemampuannya berlaga hanya sampai di situ. Kalau aja Ginting gak mengalami kram parah, mungkin dia akan terus melaju hingga membawa Indonesia pada skor kemenangan. Masalahnya, kondisinya memberatkannya. Pilihan Ginting untuk berhenti saat itu juga rasanya memang tepat. Sebab, jika Ginting memaksakan kakinya untuk terus bermain, bisa saja kram kakinya semakin parah lalu cedera, sehingga ia gak bisa bermain lagi di nomor bulutangkis lainnya.

Strategi tepat yang dilakukan Ginting perlu kamu tiru nih, girls! Ketika kamu dihadapkan pada kondisi yang mengharuskanmu memilih untuk terus maju, atau berhenti sejenak saat kamu sudah gak lagi berdaya, kamu harus tetap mengambil keputusan dengan kepala dingin dan memikirkan dampak yang akan timbul ketika kamu memutuskannya. Segala resiko memang harus berani diambil, tapi dengan menggunakan pikiran yang logis, kamu bisa lebih menghemat waktumu saat menuju keberhasilan.

4. Hubungan yang sehat dalam cinta, yang saling mendukung meraih kemenangan

Menikah pada Maret 2018 karena dorongan dari pelatih di padepokan pencak silatnya, Iqbal Candra Pratama secara yakin meminang Sarah Tria Monita. Tiga hari setelah pernikahannya itu, mereka harus kembali mengikuti Pelatnas Pencak Silat di Jakarta Timur menjelang turnamen Asian Games 2018. Awalnya, berbagai mitos sempat terparkir di pikiran keduanya, seperti halnya jika dua atlet yang sedang berpacaran gak akan meraih emas bersamaan dalam sebuah kejuaraan. Namun, keyakinan Iqbal memilih Sarah untuk menjadi istrinya mampu menghilangkan pikiran itu.

Nyatanya, mitos itu hanyalah rintangan yang harus dibuang. Keberhasilan keduanya meraih emas dalam cabor pencak silat membuktikan bahwa cinta yang saling mendukung itu mampu mengalahkan pikiran negatif, bahkan mencapai keberhasilan bersama. Yang patut kamu tiru adalah kegigihan Iqbal dan Sarah dalam usahanya meraih impian, girls. Meski berada dalam ikatan asmara, hal itu gak membuat mereka berdua lantas terlena dan melupakan apa yang menjadi impiannya sejak dulu kala.

5. Pelajaran untuk lebih menghargai prestasi dan kemahiran atlet ketimbang fisik belaka

Kemenangan Jonatan Christie dalam cabor bulutangkis yang menghasilkan emas, patutnya dipuji karena kegigihan dan kerja kerasnya menumbangkan Chou Tien Chen, pebulutangkis asal Taiwan, dalam babak final tunggal putra di Asian Games 2018. Selebrasi Jojo, sapaan akrab Jonatan, yang melepas bajunya dan menampilkan dadanya yang bidang membuat banyak perempuan mengomentari fisiknya. Bahkan ada komentar-komentar yang melenceng dan membuat bulu kuduk merinding. Gak jarang yang menganggap beberapa komentar itu sebagai sexual harassment. Padahal, Jojo layak dipuji karena usahanya, karena perjuangannya. Hal ini sebenarnya bisa menjadi pelajaran bagimu, girls! Agar lebih bisa dan lebih sering melihat keahlian seseorang ketimbang fisiknya semata.

6. Atlet dan olahraga sebagai alat pemersatu bangsa

Via ANTARA

Atlet pencak silat nomor tarung kelas C 55-60kg putra, Hanifan Yudani Kusumah, berhasil meraih emas untuk Indonesia, menggenapi rentetan emas yang didapat dari cabor pencak silat. Dalam kemenangannya, Hanifan menggunakan kesempatan itu untuk memeluk, alih-alih mempersatukan Presiden RI Joko Widodo dengan Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Prabowo Subianto. Seperti yang kita tahu bahwa Jokowi dan Prabowo akan maju sebagai calon presiden 2019 secara bersamaan, yang otomatis keduanya akan saling bersaing mendapatkan kursi kepresidenan. Namun, aksi pelukan Hanifan ini malah membuat keduanya bersatu merayakan kemenangan Indonesia yang sangat banyak disumbang oleh cabor pencak silat.

Hal ini patut kita contoh girls, sebab Indonesia mampu menampilkan wajah terbaiknya di mata dunia. Kita seakan diajarkan untuk bersaing secara sehat dan mampu mengontrol diri, melakukan apa yang perlu dan meninggalkan apa yang tidak perlu. Salut deh pokoknya sama selebrasi Hanifan ini!

7. Optimisme yang tinggi mampu melampaui target yang ditentukan

Sebelumnya Indonesia memiliki target 16 medali emas yang harus disasar. Namun, ketangguhan dan perjuangan keras para atletnya malah membawa Indonesia di peringkat ke-4 dan memboyong 31 medali emas. Yang lebih membanggakan lagi, Indonesia mampu meraih kemenangan di beberapa cabang olahraga baru seperti pencak silat, panjat dinding, paralayang, dan jetski yang menghasilkan emas. Jumlah 31 medali emas memperbarui prestasi tertinggi yang pernah diraih Indonesia pada Asian Games 1962 lalu dengan total medali emas sebanyak 11 buah. Kinerja tersebut pastinya membuat kita selaku bangsa Indonesia merasa bangga dan haru atas kerja keras para atlet beserta pelatih dan pendukungnya.

Kamu bisa meniru optimisme yang tinggi yang dimiliki bangsa ini, girls. Dengan kepercayaan diri dan kerja keras yang sama tingginya, kamu juga bisa menggapai sasaranmu bahkan melampaui targetnya.

Asian Games 2018 berhasil ditutup dengan momen terindah dimana Indonesia mampu melesat jauh dan berada di peringkat keempat dengan total medali 98 buah. Berbagai kisah perjuangan para atlet di balik kemenangannya juga sudah diunggah banyak media massa sebagai bentuk syukur dan wujud terima kasih yang sebesar-besarnya. Atas kerja sama yang baik dan ikhlas inilah, akhirnya Indonesia mampu menampakkan wajah damainya pada dunia yang dibuktikan dalam pesta olahraga terbesar Asia. Sekali lagi, selamat kepada seluruh juara!

15 Shares
Siti Annisa

Bagian dari spektrum!